Mikroskopis

aku duduk di sini. Pandangi langit malam penuh bintang. melihat-lihat ke satu dua titik. mencari sepasang mata Bapak Pengamat yang katanya mengobservasiku setiap saat dari balik mikroskop kesayangannya. walaupun sepasang mata itu tak pernah kutemukan, tapi aku tak pernah bosan memandangi kerlipan genit kawan-kawan kecil di atas sana. setidaknya aku merasa nyaman untuk selamanya. walaupun mungkin belum tentu.

aku membayangkan, sesuatu di sana lebih besar dariku dan sekelilingku. tapi tak pernah tau seperti apa tepatnya apakah itu gerangan di luar sana, di atas sana. aku sempat mengira, diluar sana adalah padang rumput yang damai tempat orang-orang dan anak kecil tertawa renyah. sudah tentu di sana banyak sungai mengalir, pohon-pohon rindang, dan sebuah bola bundar tempatku kini mungkin berada?

aku ditampar hembusan angin. kurasakan sesuatu. tolonglah sesorang atau mungkin sesuatu, siapa saja, apa saja, asalkan dia sesuatu yang bersayap dan berwajah rupawan. culiklah aku. bawalah aku ke tempat apa saja, kemana saja asal bukan di sini. tapi tak pernah datang. aku merasa terus ditampar. lebih keras. entah oleh apa

Kutukan Seorang Fotografer

Enak sih kalau bawa kamera. Pergi kemana pun bisa mengabadikan momen dengan seketika. Dengan hanya beberapa kali klik tombol saja, pemandangan di depan mata sudah bisa ditangkap di layar, di simpan, lalu di bagi.

Tetapi, membawa kamera juga berarti mewarisi kutukannya. Si pemotret, tidak akan pernah berada dalam hasil potretannya. Yang ada hanyalah muka-muka kecuali muka si tukang potret. Kasihan,,:)

Yah, bisa saja sih muka si pemotret atau beberapa bagian tubuhnya bisa terpotret dengan sedikit trik misalnya mencari sudut pandang yang tepat. Tapi bukankah  itu namanya chetaing?! ;p