Mikroskopis

aku duduk di sini. Pandangi langit malam penuh bintang. melihat-lihat ke satu dua titik. mencari sepasang mata Bapak Pengamat yang katanya mengobservasiku setiap saat dari balik mikroskop kesayangannya. walaupun sepasang mata itu tak pernah kutemukan, tapi aku tak pernah bosan memandangi kerlipan genit kawan-kawan kecil di atas sana. setidaknya aku merasa nyaman untuk selamanya. walaupun mungkin belum tentu.

aku membayangkan, sesuatu di sana lebih besar dariku dan sekelilingku. tapi tak pernah tau seperti apa tepatnya apakah itu gerangan di luar sana, di atas sana. aku sempat mengira, diluar sana adalah padang rumput yang damai tempat orang-orang dan anak kecil tertawa renyah. sudah tentu di sana banyak sungai mengalir, pohon-pohon rindang, dan sebuah bola bundar tempatku kini mungkin berada?

aku ditampar hembusan angin. kurasakan sesuatu. tolonglah sesorang atau mungkin sesuatu, siapa saja, apa saja, asalkan dia sesuatu yang bersayap dan berwajah rupawan. culiklah aku. bawalah aku ke tempat apa saja, kemana saja asal bukan di sini. tapi tak pernah datang. aku merasa terus ditampar. lebih keras. entah oleh apa

Keep Moving Forward

Meet The Robinson

Dulu sekali, ketika gw masih kecil suka ditanya sama Mamah dan Ayah kalau nanti sudah besar kamu mau jadi apa. Jawaban standarnya sok pasti adalah dokter atau insinyur. Tapi gw gak jawab itu. Gw bilang mau jadi Astronot. smile_speedy Waktu itu ortu gw diem aja si, gak dukung tapi juga ga jatuhin gw. Syukurlah, masih mending daripada ortu laen yg maksa anaknya mengikuti ‘impian mereka yang tertunda’ sehingga anaknya dibikin give-up atas cita dan impiannya sendiri. Kan kasian anaknya. Masa dari kakek sampe cicit semuanya menjadi dokter semua, gak variatif smile_teeth. Kan lebih seru kalau dalam satu keluarga ada yang jadi dokter, ada yang jadi jaksa, ada yang insinyur, ada yang ilmuwan, ada yang jadi business-man or woman 😀

Barusan gw noTEDnton juga film tentang impian. Biasalah film Disney, judulnya “Meet The Robinson”. Yang menceritakan tentang perjalanan keilmuwan-an seorang bocah penuh petualangan ruang dan waktu. Walaupun jalan ceritanya gampang ditebak, tapi filmnya mudah dicerna, gak boring. Lucunya banyak dan mengandung inspirasi, terutama tentang mimpi,,

Abis nonton langsung gw browsing topik-topik tentang invention dan penelitian. Emang bener dah, internet itu maha lautan yang luas. banyak banget sumber-sumber yang bercerita tentang topik invention. Kalau yang lagi booming tuh sekarang situs imagehttp://www.ted.com dimana di situ banyak banget sharing ide-ide gila dan banyak melibatkan teknologi dan kreativitas.

Kalau buat anak-anak ada situs http://www.inventnow.org yang berisi seputar kumpulan proyek ilmiah anak-anak. misalnya model kendaraan berbahan bakar hidrogen yang diproduksi oleh bakteri, portable barbeque, mp3 pencil, dan masih banyak lagi. Jangan melihat kekonyolan ide anak-anak tersebut, tapi bayangkan kalau sejak dini imajinasi seperti itu dipupuk, berapa banyak Einstein muda yang dihasilkan oleh suatu negara.

Jadi keinget jaman sekolah dulu juga sempet ada proyek ilmiah kayak gitu. Tapi sepertinya untuk ukuran di Indonesia masih kurang greget ya bila dibanding dengan sekolah luar negeri. mungkin dianggapnya sains kurang penting ya di sini. Pantesan kita ketinggalan jauh dalam hal teknologi dan penemuan dari orang bule. Padahal yang membedakan orang ‘bule’ dan ‘bukan bule’ hanyalah bukan,, smile_thinking

Terakhir, seperti yang Om Disney selalu bilang. “Keep moving forward”. Atau seperti yang disampaikan oleh Rob Thomas “Our lives are made in these small hours, these little wonders”. smile_wink

Kutukan Seorang Fotografer

Enak sih kalau bawa kamera. Pergi kemana pun bisa mengabadikan momen dengan seketika. Dengan hanya beberapa kali klik tombol saja, pemandangan di depan mata sudah bisa ditangkap di layar, di simpan, lalu di bagi.

Tetapi, membawa kamera juga berarti mewarisi kutukannya. Si pemotret, tidak akan pernah berada dalam hasil potretannya. Yang ada hanyalah muka-muka kecuali muka si tukang potret. Kasihan,,:)

Yah, bisa saja sih muka si pemotret atau beberapa bagian tubuhnya bisa terpotret dengan sedikit trik misalnya mencari sudut pandang yang tepat. Tapi bukankah  itu namanya chetaing?! ;p

Hell Yeah, I Know Nothing About My Self

Mungkin kalimat judulnya berlebihan. Yang kayak gini kalau gak salah namanya Hiperbola ya. Ya mana ada si air mata menganak sungai, bekerja membanting tulang, atau menangis darah. Emang majas lebay si Hiperbola ini. Begitupun dengan kalimat judul diatas. Sedikit menggunakan plastik bahasa boleh dong, untuk menggambarkan betapa gw, dan mungkin ‘sob juga, hanya sedikit mengetahui siapa si jati diri itu sebenarnya.

Ketidaktahuan itu misalnya, kita gak ngerti apa sebenarnya mau kita, apa sebenarnya yang membuat kita bahagia. Kenapa kita merespons sesuatu secara seperti itu dan tidak dengan cara lainnya. Mengapa kita begitu marah dan kesal terhadap sesuatu dan hal itu berada di luar kendali kita karena terjadi begitu saja, alamiah, dan tanpa kita perintah.

Lalu, kenapa kita menyukai sesuatu yang orang lain mungkin tidak. Kenapa kita begitu tertarik pada suatu hal padahal orang lain tidak. Kenapa kita menyukai seseorang dan kita tidak tahu atas dasar apa perasaan itu berpijak.

Jadi keinget. Kenapa kita berjalan seperti itu, menyisir rambut dengan cara seperti itu, menalikan sepatu dengan model tali temali seperti itu, menyusuri jalan yang itu untuk pergi ke kampus dan bukan jalan lainnya yang lebih dekat, menulis dengan font unik seperti itu yang tidak ada di library font manapun di dunia, lalu menyusun kalimat tanya terhadap dosen dengan cara seperti itu atau kenapa kita tidak bertanya kepada dosen padahal punya banyak daftar pertanyaan untuk diungkapkan?

Dalam kaitannya antara orang dengan informasi,ada suatu model yang namanya Johari Window. Yep, Jendela Johari. Model itu tujuannya kalau tidak salah yaitu untuk meningkatkan kemampuan interpersonal kita. Model tersebut membagi informasi tentang diri kita ke dalam empat kuadran yaitu (1) public self (2) Blind self  (3) private self (4) unknown selfjohari-window
Public self yaitu: gw tau dan orang lain tau. Adalah kita yang go public. Kita yang sebocor-bocornya kita, semua orang termasuk temen-temen kita sudah mafhum. Bahwa kita suka nyolong itu semua orang juga sudah tahu, hehe. Bahwa kita yang artis, kita yang suka jualan kerupuk, kita yang bekerja di sturbuck, kita yang berbulu tebal, kita yang keras kepala, kita yang selalu di luar kotak, kita yang kocak, dsb. Semua informasi itu terbuka, baik untuk diri kita maupun orang lain.

Private self laen lagi, gw tau dan semua orang gak tahu. Yang ini bisa jadi emosi-emosi kita yang bersifat rahasia, aib kita, atau bahkan kebaikan kita yang kita ogah kalau orang lain mengetahuinya. Hanya diri kita yang tahu. Misalnya adalah, kita yang alim mungkin semua orang sudah tahu tapi sisi lain kita yang suka mengoleksi JAV, si kita yang mengagumi mbak maria, si kita yang memendam rasa untuk seseorang, si kita yang baik walaupun tampang pas-pasan, si kita yang kaya akan rasa, si kita yang kaya akan cinta, si kita yang penuh trauma, si kita yang blended antara kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu, kadang private self bisa menjadi public self ketika kita curhat, bersikap jujur, atau sekedar sedikit bersombong-sombong, mengungkapkan rasa cinta atau tidak suka. Seharusnya, kebaikan-kebaikan itu perlu diekspresikan dalam tingkat sewajarnya, dan keburukan mungkin hanya butuh sedikit kejujuran,,

Blind Self, gw gak tahu tapi lo tahu. Namanya juga buta, ya buta hati mata dan telinga melihat kelakuan kita yang nyata-nyata orang melihat dan menyaksikan. Kita buta kalau kita sudah menyakiti orang yang kita cintai dengan cinta kita. Dalam hal-hal baik misalnya, kita gak nyadar kalau kita ini lucu padahal orang lain itu tahu kalau kita lucu, agak jarang si yang kyk gini, hehehe, sering-seringnya si kita gak nyadar kesalahan kita yang nyata-nyata akibatnya. Yang kayak gini perlu disadarkan, si kita harus lebih banyak meminta feedback dari orang-orang seperti yang sering dilakukan oleh para sahabat sang nabi.

Unknown Self, gw gak tau dan lo juga begitu. Sisi paling abstrak dan tersembunyi. Mungkinkah kita sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menghentikan waktu? Mungkinkah sebenarnya kita berasal dari Krypton. Halah, jadi berhayal ini. Intinya, kita ga punya cukup informasi mengenai kuadran ini. Harus lebih banyak dilakukan self discovery, sering-sering berdialog dengan jin-jin di dalam diri kita, hehe, atau saling berbagi penemuan jati diri dengan orang lain, atau dengan meminta orang lain mengobservasi kita.

Setiap orang, pastilah punya empat sisi dimensi itu. Jadi, seberapa ajaibnya dirimu janganlah merasa sombong. Karena kesombongan itu endingnya suka gak enak, beneran deh. Dan seberapa malangnya dirimu janganlah merasa rendah, karena selalu ada sisi ajaib dari diri kita yang mungkin belum bisa kita ungkap, yang kadang hanya membutuhkan sedikit diskusi. Balik lagi ke ungkapan chrisye eh klise, no body is perfect.

Denial: Knowing But Not Knowing

Tadi malam saya habis baca majalah HBR edisi Juli-Agustus 2008 yang judul di halaman depannya adalah “Honing Your Competitive Edge”. Sembari menunggu tidur ternyata asyik juga ya membaca sambil mendengarkan musik instrumental. Nasib jadi pengangguran daripada mikirin yang nggak-nggak terus putus asa mendingan baca-baca.

Ada artikel menarik mengenai konsep denial di majalah itu. Denial atau penolakan didefinisikan oleh Sigmund Freud sebagai “knowing but not knowing”. Kalau bahasa indonesianya berarti tahu tapi tak tahu, atau pura-pura tak tahu, bisa juga saya artikan gak mau nerimo. Terjadi penolakan karena si penolak tidak mau menerima dunia sebagaimana mestinya tetapi lebih memilih dunia seperti yang dia inginkan. “The world as it is and the world as you want it to be”. Continue reading “Denial: Knowing But Not Knowing”