Hell Yeah, I Know Nothing About My Self

Mungkin kalimat judulnya berlebihan. Yang kayak gini kalau gak salah namanya Hiperbola ya. Ya mana ada si air mata menganak sungai, bekerja membanting tulang, atau menangis darah. Emang majas lebay si Hiperbola ini. Begitupun dengan kalimat judul diatas. Sedikit menggunakan plastik bahasa boleh dong, untuk menggambarkan betapa gw, dan mungkin ‘sob juga, hanya sedikit mengetahui siapa si jati diri itu sebenarnya.

Ketidaktahuan itu misalnya, kita gak ngerti apa sebenarnya mau kita, apa sebenarnya yang membuat kita bahagia. Kenapa kita merespons sesuatu secara seperti itu dan tidak dengan cara lainnya. Mengapa kita begitu marah dan kesal terhadap sesuatu dan hal itu berada di luar kendali kita karena terjadi begitu saja, alamiah, dan tanpa kita perintah.

Lalu, kenapa kita menyukai sesuatu yang orang lain mungkin tidak. Kenapa kita begitu tertarik pada suatu hal padahal orang lain tidak. Kenapa kita menyukai seseorang dan kita tidak tahu atas dasar apa perasaan itu berpijak.

Jadi keinget. Kenapa kita berjalan seperti itu, menyisir rambut dengan cara seperti itu, menalikan sepatu dengan model tali temali seperti itu, menyusuri jalan yang itu untuk pergi ke kampus dan bukan jalan lainnya yang lebih dekat, menulis dengan font unik seperti itu yang tidak ada di library font manapun di dunia, lalu menyusun kalimat tanya terhadap dosen dengan cara seperti itu atau kenapa kita tidak bertanya kepada dosen padahal punya banyak daftar pertanyaan untuk diungkapkan?

Dalam kaitannya antara orang dengan informasi,ada suatu model yang namanya Johari Window. Yep, Jendela Johari. Model itu tujuannya kalau tidak salah yaitu untuk meningkatkan kemampuan interpersonal kita. Model tersebut membagi informasi tentang diri kita ke dalam empat kuadran yaitu (1) public self (2) Blind self  (3) private self (4) unknown selfjohari-window
Public self yaitu: gw tau dan orang lain tau. Adalah kita yang go public. Kita yang sebocor-bocornya kita, semua orang termasuk temen-temen kita sudah mafhum. Bahwa kita suka nyolong itu semua orang juga sudah tahu, hehe. Bahwa kita yang artis, kita yang suka jualan kerupuk, kita yang bekerja di sturbuck, kita yang berbulu tebal, kita yang keras kepala, kita yang selalu di luar kotak, kita yang kocak, dsb. Semua informasi itu terbuka, baik untuk diri kita maupun orang lain.

Private self laen lagi, gw tau dan semua orang gak tahu. Yang ini bisa jadi emosi-emosi kita yang bersifat rahasia, aib kita, atau bahkan kebaikan kita yang kita ogah kalau orang lain mengetahuinya. Hanya diri kita yang tahu. Misalnya adalah, kita yang alim mungkin semua orang sudah tahu tapi sisi lain kita yang suka mengoleksi JAV, si kita yang mengagumi mbak maria, si kita yang memendam rasa untuk seseorang, si kita yang baik walaupun tampang pas-pasan, si kita yang kaya akan rasa, si kita yang kaya akan cinta, si kita yang penuh trauma, si kita yang blended antara kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu, kadang private self bisa menjadi public self ketika kita curhat, bersikap jujur, atau sekedar sedikit bersombong-sombong, mengungkapkan rasa cinta atau tidak suka. Seharusnya, kebaikan-kebaikan itu perlu diekspresikan dalam tingkat sewajarnya, dan keburukan mungkin hanya butuh sedikit kejujuran,,

Blind Self, gw gak tahu tapi lo tahu. Namanya juga buta, ya buta hati mata dan telinga melihat kelakuan kita yang nyata-nyata orang melihat dan menyaksikan. Kita buta kalau kita sudah menyakiti orang yang kita cintai dengan cinta kita. Dalam hal-hal baik misalnya, kita gak nyadar kalau kita ini lucu padahal orang lain itu tahu kalau kita lucu, agak jarang si yang kyk gini, hehehe, sering-seringnya si kita gak nyadar kesalahan kita yang nyata-nyata akibatnya. Yang kayak gini perlu disadarkan, si kita harus lebih banyak meminta feedback dari orang-orang seperti yang sering dilakukan oleh para sahabat sang nabi.

Unknown Self, gw gak tau dan lo juga begitu. Sisi paling abstrak dan tersembunyi. Mungkinkah kita sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menghentikan waktu? Mungkinkah sebenarnya kita berasal dari Krypton. Halah, jadi berhayal ini. Intinya, kita ga punya cukup informasi mengenai kuadran ini. Harus lebih banyak dilakukan self discovery, sering-sering berdialog dengan jin-jin di dalam diri kita, hehe, atau saling berbagi penemuan jati diri dengan orang lain, atau dengan meminta orang lain mengobservasi kita.

Setiap orang, pastilah punya empat sisi dimensi itu. Jadi, seberapa ajaibnya dirimu janganlah merasa sombong. Karena kesombongan itu endingnya suka gak enak, beneran deh. Dan seberapa malangnya dirimu janganlah merasa rendah, karena selalu ada sisi ajaib dari diri kita yang mungkin belum bisa kita ungkap, yang kadang hanya membutuhkan sedikit diskusi. Balik lagi ke ungkapan chrisye eh klise, no body is perfect.