Mikroskopis

aku duduk di sini. Pandangi langit malam penuh bintang. melihat-lihat ke satu dua titik. mencari sepasang mata Bapak Pengamat yang katanya mengobservasiku setiap saat dari balik mikroskop kesayangannya. walaupun sepasang mata itu tak pernah kutemukan, tapi aku tak pernah bosan memandangi kerlipan genit kawan-kawan kecil di atas sana. setidaknya aku merasa nyaman untuk selamanya. walaupun mungkin belum tentu.

aku membayangkan, sesuatu di sana lebih besar dariku dan sekelilingku. tapi tak pernah tau seperti apa tepatnya apakah itu gerangan di luar sana, di atas sana. aku sempat mengira, diluar sana adalah padang rumput yang damai tempat orang-orang dan anak kecil tertawa renyah. sudah tentu di sana banyak sungai mengalir, pohon-pohon rindang, dan sebuah bola bundar tempatku kini mungkin berada?

aku ditampar hembusan angin. kurasakan sesuatu. tolonglah sesorang atau mungkin sesuatu, siapa saja, apa saja, asalkan dia sesuatu yang bersayap dan berwajah rupawan. culiklah aku. bawalah aku ke tempat apa saja, kemana saja asal bukan di sini. tapi tak pernah datang. aku merasa terus ditampar. lebih keras. entah oleh apa

Iklan

Rame-Rame Menyumbang Buku

“Buku adalah jendela dunia” begitu kata pepatah. Pepatah siapaa gw juga ga tahu. Tapi yang jadi pokok pembicaraan kali ini bukan soal pepatahnya, melainkan soal BUKU!

Karena sudah mau lulus, maka setiap lulusan yang mau lulus (halah) dijurusan gw diwajibkan dianjurkan untuk menyumbang dana beberapa sen buat membeli buku untuk adek-adek lulusan yang mau lulus (tetep..) kelak.

Ngebayang dulu soal fasilitas buku yang ada di kampus. Namanya juga kampus yang lokasinya ada di Indonesia, pasti stok bukunya gak sebanyak stok buku yang ada di Library of Congress. Di kampus gw itu, ya namanya juga di Indonesia, perpustakaan pusatnya aja cuman satu lantai yang bisa dipinjem bukunya oleh para anggota perpustakaan dari berbagai fakultas. Lantai lainnya dedicated buat referensi, jurnal, skripsi, thesis, majalah, dan lain-lain yang pasti GAK BISA DIPINJEM. Kalau dihitung-hitung, kalo cuman luas satu lantai palingan berapa banyak si koleksi buku yang ada. Dan koleksi itu akan dipinjamkan kepada bapak-bapak, ibu-ibu, dan sodara-sodara dari fakultas yang berbeda-beda. Jadi kebayang garis antrian bukan? Pernah gw mau pinjem buku Harry Potter yang ke berapaaa gitu gw lupa, dan gw harus ngantri tu buku sampe next semester baru bisa pinjem, itu juga pas liburan baru itu buku baru bisa available. Yang lebih heran lagi, gw ngincer buku Winnetou jilid satu gak pernah dapet-dapet sampe sekarang, udah setahun statusnya di database selalu lagi dipinjem. Uzubilaah.. Continue reading “Rame-Rame Menyumbang Buku”