Denial: Knowing But Not Knowing

Tadi malam saya habis baca majalah HBR edisi Juli-Agustus 2008 yang judul di halaman depannya adalah “Honing Your Competitive Edge”. Sembari menunggu tidur ternyata asyik juga ya membaca sambil mendengarkan musik instrumental. Nasib jadi pengangguran daripada mikirin yang nggak-nggak terus putus asa mendingan baca-baca.

Ada artikel menarik mengenai konsep denial di majalah itu. Denial atau penolakan didefinisikan oleh Sigmund Freud sebagai “knowing but not knowing”. Kalau bahasa indonesianya berarti tahu tapi tak tahu, atau pura-pura tak tahu, bisa juga saya artikan gak mau nerimo. Terjadi penolakan karena si penolak tidak mau menerima dunia sebagaimana mestinya tetapi lebih memilih dunia seperti yang dia inginkan. “The world as it is and the world as you want it to be”. Continue reading “Denial: Knowing But Not Knowing”

Rame-Rame Menyumbang Buku

“Buku adalah jendela dunia” begitu kata pepatah. Pepatah siapaa gw juga ga tahu. Tapi yang jadi pokok pembicaraan kali ini bukan soal pepatahnya, melainkan soal BUKU!

Karena sudah mau lulus, maka setiap lulusan yang mau lulus (halah) dijurusan gw diwajibkan dianjurkan untuk menyumbang dana beberapa sen buat membeli buku untuk adek-adek lulusan yang mau lulus (tetep..) kelak.

Ngebayang dulu soal fasilitas buku yang ada di kampus. Namanya juga kampus yang lokasinya ada di Indonesia, pasti stok bukunya gak sebanyak stok buku yang ada di Library of Congress. Di kampus gw itu, ya namanya juga di Indonesia, perpustakaan pusatnya aja cuman satu lantai yang bisa dipinjem bukunya oleh para anggota perpustakaan dari berbagai fakultas. Lantai lainnya dedicated buat referensi, jurnal, skripsi, thesis, majalah, dan lain-lain yang pasti GAK BISA DIPINJEM. Kalau dihitung-hitung, kalo cuman luas satu lantai palingan berapa banyak si koleksi buku yang ada. Dan koleksi itu akan dipinjamkan kepada bapak-bapak, ibu-ibu, dan sodara-sodara dari fakultas yang berbeda-beda. Jadi kebayang garis antrian bukan? Pernah gw mau pinjem buku Harry Potter yang ke berapaaa gitu gw lupa, dan gw harus ngantri tu buku sampe next semester baru bisa pinjem, itu juga pas liburan baru itu buku baru bisa available. Yang lebih heran lagi, gw ngincer buku Winnetou jilid satu gak pernah dapet-dapet sampe sekarang, udah setahun statusnya di database selalu lagi dipinjem. Uzubilaah.. Continue reading “Rame-Rame Menyumbang Buku”

Permainan Dingin Alias Cold Play

Viva La Vida
Viva La Vida

Lagi suka lagu ini nih, asyik banget dengerinnya. Pertama kali denger gw kira arti lirik lagunya kayak lagunya Padi yang Sang Penghibur, tapi pas nyari di google ternyata tentang ini dan ini. Jadi makin sukaaa. Asyik dimaenin juga nih lagunya, apalagi malem-malem, hehe, selalu. Chordnya di sini. Liriknya ngopipasti dari web, hehe. Oya, gw baru tahu kalau St.Peter Tuh ternyata salah satu murid nabi Isa, orang islam menyebutnya sebagai hawari atau hawariyun. Gw pas pertama denger langsung nyari di Encarta gt deh. Continue reading “Permainan Dingin Alias Cold Play”

Frankenstein

After days, months, and years even without enough sleep and food, the father who created him finally finds its moment. With his magical word, he created what we called LIFE! He gave his child after his name, Frankenstein. It is, i can tell, is the best moment he has, EVER!

And, the story flow itself. Until one day, when the child find out that life was never easy to live on. The child came to his father only for asking a question,

” I am the worst creature ever created in this world. I have no brains, my face is suck, and i don’t have any ability to be loved by someone. I always fell empty and lonely inside. Anyway, what is the reason you created me in the first place if you already know that i will be such a loser and only become a burden to people surrounding me?”

And, the father only give him a silent. I don’t know if he has an answer. Is he making a mistake? Is that guy only a selfish person considering only his own feeling without even feels the pain that maybe exist someday in his child that he created. Again, the empty answer.

Amphibi

Gw sering merasa kayak gini, kalo lagi di Jakarta gw pengeeeeeen banget pulang kampung ke Kuningan yang jauh di sana, kangeun berat sama keluarga di rumah dan temen-temen gw di desa, rindu banget pengen dapetin suasana sejuk gunung Ciremai. Jadi ngelamun pengen kayak di film Jumper, bisa lompat sana lompat sini dengan sekelip mata, hehe. Tapi, pas gw di Kuningan perasaan gw malah jadi untuk Jakarta. Pengen denger hiruk pikuknya Jakarta, maen sana-sini, jalan-jalan seputaran kampus, liat danau di kampus yang walaupun airnya agak kotor tapi teuteu..p aja ngangenin.

Ada lagi, perasaan seperti itu ternyata tidak hanya berlaku untuk masalah tempat tinggal saja. Pernah memiliki atau berada dalam sesuatu dan lo pengeeeeeen banget lepas dari itu sesuatu, sampe setiap detik lo habisin amunisi do’a lu minta-minta biar sesuatu itu lepas dari lo. Tapi, lo pernah ngalamin juga sih, ketika sesuatu itu lepas dari lo, rasanyaaaaaaa.. lo pengeeeeen banget berada dalam sesuatu itu. Peraasaan aneh macam apa memang..

Selingkuh juga kayaknya kayak gitu deh. Kalo lagi di rumah sama istri yang sah bawaannya pengeeen mulu di luar sono barengan si Sefi, tapi pas lagi bareng si Sefi barangkali perasaan lo ga nyaman karena keinget mulu sama yang di rumah. Pasti lah ada rasa-rasa nyempil di sudut hati lo, sampe lo mungkin jadi kebal terhadap perasaan diri lo sendiri, sampe lu tega bunuh itu perasaan bersalah. Saking gak nyamannya.. Makanya, jangan selingkuh, dasar bangkong, dua lingkuh aja, hehe =D


How To: Kiat Mengelola Perbedaan

Setelah semalaman membaca sebuah buku keren terbitan sekolah impiannya Rory Gilmore berjudul HBR: on Negotiation and Conflict Resolution , saya jadi terpacu untuk menulis mengenai beberapa tips ataupun cara konyol dalam hal mengelola perbedaan. Kita semua tahu bahwa, segala isi hidup ini diciptakan olehnya tidak seragam, bervariasi, dan berbeda. Dan, karena saya sedang tergesa-gesa, saya ingin mengambil kesimpulan yang tergesa-gesa bahwa pada intinya perbedaan adalah sumber konflik, itu kesimpulan saya, mau setuju atau tidak, sehingga apresiasi dan pengelolaan terhadap perbedaan itu menjadi sangat urgent dan mendesak. Yah, sama urgent dan pentingnya ketika kita harus segera pergi ke belakang ketika sinyal untuk melakukan bersiul atau bernyanyi sudah semakin kuat. Dan ketika sinyal sudah datang tapi kita tidak memenuhinya, seperti kata Sheila on Seven, “Bersiaplah…” Continue reading “How To: Kiat Mengelola Perbedaan”