Denial: Knowing But Not Knowing

Tadi malam saya habis baca majalah HBR edisi Juli-Agustus 2008 yang judul di halaman depannya adalah “Honing Your Competitive Edge”. Sembari menunggu tidur ternyata asyik juga ya membaca sambil mendengarkan musik instrumental. Nasib jadi pengangguran daripada mikirin yang nggak-nggak terus putus asa mendingan baca-baca.

Ada artikel menarik mengenai konsep denial di majalah itu. Denial atau penolakan didefinisikan oleh Sigmund Freud sebagai “knowing but not knowing”. Kalau bahasa indonesianya berarti tahu tapi tak tahu, atau pura-pura tak tahu, bisa juga saya artikan gak mau nerimo. Terjadi penolakan karena si penolak tidak mau menerima dunia sebagaimana mestinya tetapi lebih memilih dunia seperti yang dia inginkan. “The world as it is and the world as you want it to be”.

Studi kasusnya mengenai kegagalan Henry Ford dalam membaca perubahan permintaan pasar terhadap produk mobil. Kita semua tahu bahwa Henry Ford adalah seorang Insinyur hebat. kalau  Anda pernah bermain Sid Meyer’s Civillization IV mungkin Anda pernah mendapatkan Henry Ford sebagai The Great Person di suatu kota yang Anda bangun. Kalau saya pernah. Di layar game-nya suka dikasih tahu tulisan kayak gini, “Henry Ford the great engineer born in York”. Namun sebagai orang hebat, dalam kasus ini, Henry Ford ternyata pernah gagal melihat perubahan permintaan pasar tersebut. Bahkan staf eksekutif yang memberinya peringatan dalam suatu memorandum berikut penjelasan detailnya ditolak bahkan kemudian dipecat oleh Henry Ford.

Kengototan Henry Ford ini didasarkan pada pandangan dan keyakinanya bahwa dia sangat tahu apa yang diinginkan oleh pelanggan yaitu “sebuah alat transportasi dasar”. Slogan paling favorit untuk mobil T yang dia buat adalah “it takes you there and it brings you back”. tetapi apa yang Ford tidak tangkap adalah bahwa untuk setiap produk atau jasa terdapat dua komponen yaitu komponen inti/tujuan utama suatu produk serta komponen tambahan/fungsi serta fitur tambahan. Dalam suatu industri, kedua fitur tersebut akan saling menggeser menurut waktu. Pada tahun 1908, pelanggan membeli mobil sebagai suatu alat transportasi sementara pada tahun 1920-an dunia berubah karena orang lebih banyak memiliki uang dan waktu luang sehingga mobil bukan lagi menjadi alat transportasi tetapi menjadi simbol status. Dan hal tersebut tidak ditangkap oleh Ford tetapi ditangkap oleh pesaingnya Alfred Sloan di General Motor yang menciptakan konsep mobil berbeda-beda. Chevrolet untuk para hoi polloi, Pontiac untuk si miskin tetapi tetap bangga, Oldsmobile untuk yang ingin nyaman tetapi tetap bijaksana, Buick untuk para pekerja keras, serta Cadillac untuk yang kaya raya.

Namun sejarah memang suka berulang. Pada tahun 1970-an, pelanggan kembali lagi ke kebutuhan dasar, yaitu mobil sebagai alat transportasi. Para produsen mobil Amerika menolak bahwa permintaan pelanggan sudah bergeser lagi. Permintaan pasar tersebut ternyata ditangkap oleh produsen mobil Jepang yang membuat mobil sebagai alat transportasi tetapi hemat dan murah. Istilahnya “cars that would get you there and back again reliably and cheaply”.

Yang menyedihkan dari artikel ini adalah bahwa ternyata orang-orang pintar pun dapat membuat kesalahan. Sigmund Freud pencetus konsep denial ternyata merupakan korban dari gagasannya sendiri. Dia tetap merokok bahkan setelah dirinya terdiagnosis menderita kanker mulut. Bagaimana dengan Anda?!

Iklan

2 thoughts on “Denial: Knowing But Not Knowing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s